Waktu kian berlalu…
Siang berganti menjadi malam…
Malam pun berganti menjadi siang…
…
Apakah engkau melihat embun yang membasahi mawar putihku hari ini…?
Setiap hari sang embun tetap setia membasahi mawar itu…
…
Meski hari kian berganti…
Ia…, tetap kan selalu setia…
…
Karena sang embun tau…
Bahwa ia mencintai mawar itu…
…
Dan sang mawar pun tau…
Bahwa ia selalu mencintai sang embun pagi…
Hujan di luar masih rintik-rintik. Tiba-tiba angin kencang meniup jendela kamarku hingga terbuka. Aku yang sedang belajar di kamar, terpaksa menutupnya. Dengan langkah gontai, aku melangkah ke arah jendela yang terbuka untuk kututup kembali. Secara tak sengaja, mataku tertumpu pada bunga mawar putih yang sengaja ku tanam di bawah jendela kamarku. aku terpaku sejenak.
Oh,bunga mawar putih, dikau mengingatkan diriku pada Masitah, sahabat karibku, yang telah pergi jauh dan tak akan kembali lagi. Kuingat,waktu itu Bu Rosita, guru IPA kami menyuruh kami agar tukar-menukar biji-bijian apa saja dengan teman sekelas, lalu biji-bijian itu harus di tanam sampai tumbuh dan berbunga. Kebetulan, saat itu aku tukar-menukar biji dengan Masitah.
Rupanya dia memberiku biji bunga Mawar, dan aku memberi Masitah biji bunga matahari.
Dari hari ke hari, ku rawat dan selalu ku pelihara biji bunga pemberiannya hingga mengembang. Dan pada saat bunga mawar putih itu mekar, kau pergi karena kecelakaan kereta api. Oh, mengapa semua ini harus terjadi, mengapa di saat bunga mawar putih pemberianmu mulai mekar berseri kau pergi meninggalkan aku tanpa pesan apapun.
Oh, sobatku, Masitah, bagaimana mungkin dapat kulupakan dirimu, wajahmu,senyummu, candamu,semua masih terbayang-bayang di pelupuk mataku.
Masih kuingat, sebelum peristiwa naas itu terjadi, waktu itu kau sungguh lincah dan ceria. Kau nyanyikan lagu-lagu islami. Memang, saat itu kau tidak seperti biasanya. Kau tampak pasrah dan terus kau nyanyikan lagu-lagu merdu bernuansa islami. Oh, Tuhan, mengapa harus Kau renggut Masitah dari sisiku. Mengapa harus orang-orang yang kusayangi pergi. Seandainya saja takdirMU dapat kutentang, tak akan kubiarkan Masitah pergi dari sisiki. Tapi itu tak mungkin. Itu hanya Khayalanku belaka. kuhela nafas dalam-dalam...
Oh,lagi-lagi angin nakal mengejutkanku hingga lamunanku seketika buyar. Oh, bunga mawar putihku, kau bagaikan bayangan Masitah yang tak ternilai harganya. Kutatap tajam tiap kelopaknya. Warnamu putih seputih hati Masitah yang selalu memberi warna. Mata yang selalu menyiratkan kegembiraan.
Oh......sudahlah yang lalu biar berlalu. Dan tak lupa, selalu kupanjatkan doa untuk Masitah, Semoga kau bahagia di belaianNYA.
…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar